celotehjul2julia

Yang Tersisa Dari AFF

Posted on: January 7, 2011

Tidak ada kata basi untuk bercerita, meski kejadian itu sudah terlewat. Begitupun juga dengan perhelatan AFF yang sudah berakhir beberapa waktu lalu. Namun semuanya seperti baru saja terjadi. Indonesia memang tidak juara, tapi Timnas Sepakbola tetap menjadi juara di hati kami para supporter-nya. Mereka telah berusaha yang terbaik.

Terus terang, meski saya tida mengikuti setiap  permainan Timnas di Piala AFF sejak awal (Kebetulan lagi banyak acara), tapi untuk skor dan jalannya pertandingan selalu memantau. Terutama dari Twitter yang memang info-nya up to date banget…banget..banget…! Kebetulan ada twitter official resmi AFF yaitu @SuzukiIndonesia, dan juga twit dari orang-orang/kumpulan sepakbola yang saya follow.

Menjelang Semifinal, saya yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) untuk menonton bola (catet ya: “untuk menonton bola”, kalau untuk keperluan lain sih sering. Hehee..) pengeeeeeeen banget nonton langsung ke GBK. Hal yang membuat saya tidak lagi takut untuk menonton disana adalah: Pertama, Harga tiket yang lebih tinggi dari pertandingan sepakbola yang biasanya digelar disana (LSI) tentu saja akan menjaring penonton yang berbeda. Kedua: gara-gara pemain naturalisasi, konon katanya banyak penonton perempuan yang datang untuk menonton langsung kesana *Loh…

Akibat rasa kepenasaran itulah, saya mencoba mencari info tiket kesana-kemari. Pilihan terakhir, jatuh kepada OB kantor sebelah yang katanya mau beliin tiket tapi minta tambahan Rp 15rb/tiket. Karena ga’ mau ribet, jadilah saya dapet tiket juga. Itupun sempet ga dapet awalnya, soalnya per/orang Cuma dibatasi 5 tiket. Dan OB itu banyak sekali titipannya. Awalnya sih udah pasrah aja, yasudahlah kalau memang ga dapet. Belum “jodohnya” bisa nonton di GBK. Tapi Alhamdulillah…waktu pagi buka BB, ada message dari temen kantor yang bilang kalau akhirnya tiketnya dapet!  Waktu itu saya nonton kategori I,dengan harga tiket 150rb. Kebetulan barengan sama teman-teman Sobatpadi.

Pas hari-H (Semifinal Leg-2 lawan Filipina) ,jatuh di hari libur. Jadi bisa prepare se-awal mungkin. Tapi ternyata waktu di GBK ada kendala sinyal! Entah karena Presiden yang mau nonton atau memang banyak yang pake, jadinya susah banget kontak sama teman-teman saya. Akhirnya, baru menjelang Maghrib kita masuk. Dan ternyata…mau masuk gate sektor aja susah! Boro-boro nyari tempat duduk. Mau masuk aja susah L KECEWA banget sama penyelenggara? Jelas IYA! Dengan adanya kondisi seperti ini, berarti penjualan karcis tidak sesuai. Jumlah tempat duduk yang tersedia jelas lebih sedikit dibanding tiket yang beredar. Entah “Permainan” apa yang ada didalam. Akhirnya kita melipir-melipir, menuju batas sektor VIP (waktu itu belum tahu kalau sektor sebelah itu diperuntukkan VIP). Tak lama, karena sektor kami (Cat-1) sudah penuh sesak dan tidak bisa menampung lagi.  Petugas perbatasan penjaga sektor memperbolehkan kami untuk pindah ke sektor sebelah! Belakangan saya baru tahu, kalau itu sektor VIP. Pantesan aja kita bisa bareng Master Limbad, masa iya mereka beli tiketnya yang Cat-1. Ternyata? Hehe… *Maaf ya, buat penonton sektor VIP yang datang belakangan dan ga’ kebagian masuk. Bukan salah kita looh… kita Cuma disuruh kok! :-p

Dapet posisi enak banget. Bisa liat pemain pemanasan dulu, kebetulan mereka pemanasan ada di sisi kita duduk. Sayang banget ga bawa lensa tele, jadi ga’ bisa motret bagus. Jauh juga soalnya dari posisi kita berdiri ke lapangan bola-nya. Alhamdulillah, waktu itu Indonesia menang melawan Filipina, dan masuk ke Final.

BERBURU TIKET FINAL

Waktu Semifinal,  PSSI masih  menjatah @rajakarcis untuk menjualnya. Tapi setelah Final, @rajakarcis sudah tidak diajak kerjasama lagi. Ini yang bikin saya sempet misuh-misuh! Dengan adanya pemusatan penjualan di satu titik, akan membuat kekacauan. Apalagi, PSSI ternyata belum profesional. Entah tidak menyangka Indonesia bakal masuk Final, hingga kurang mengantisipasi penonton akan membludak. Atau memang sistemnya masih kacrut! Hmmmh….yang kaya begini mau jadi tuan rumah Piala Dunia?! *sigh

Berkaca dari pengalaman berburu tiket pertama, nitip sama OB tapi menanti H2C takut ga dapet. Akhirnya sata sama teman berniat mengantri tiket langsung. Sempat ketar-ketir waktu nonton berita, penjualan tiket Cat-1 dan 2 yang jelas-jelas harganya aja lebih mahal dari categori-3 (Tribun atas) sudah rusuh! Mikir, gimana yang tribune jelas-jelas peminatnya lebih banyak. Tapi karena sudah semangat ’45 nonton pertandingan Final Leg-2  Indonesia vs Malaysia, akhirnya hari Minggu pagi saya dan teman saya (Poppa) ikut berniat mengantri tiket. Janjian di GBK jam 6, langsung menuju tempat penjualan tiket di loket samping Al-bina, sudah padat dan sedikit rusuh. Melihat kondisi yang diperkirakan akan memanas dan sangat tidak kondusif (lempar-lemparan botol plus dorong-dorongan), akhirnya kita menuju loket lain di samping Tennis Indoor. Disini lumayan rapi, meski ada sedikit dorong-dorongan (karena ada pengantri dari luar gerbang yang mau masuk). Mulai antri dari jam 7, sedangkan loket dibuka sampai jam 10. Saya sih tidak merasa ada kerusuhan disini, namun tidak begitu lama nomor antrian dibagi, tiba-tiba antrian tidak maju lagi! Padahal tinggal beberapa meter menuju loket. Tanya sana-sini, ternyata petugasnya KABUR! Di loket tidak ada siapa-siapa. Ada yang bilang “Nomor antriannya sudah habis”. Saya mikir “HABIS? PLEASE deh..”… dalam hitungan menit sudah habis? Mau tanya kejelasannya sama siapa, tidak ada orang di tempat. Karena kita sudah tidak begitu berharap loket akan dibuka dan tidak ada kejalasan, akhirnya kita pergi dari kerumunan. Okelah kita memang dari pagi antrinya, kasihan yang sudah dari malam antri gak dapat juga. Kebetulan di depan antrian saya ada bapak-bapak yang awalnya antri di depan loket Al-Bina dari jam 12 malam, dia ga’ kuat antri disitu gara-gara ricuh. “sampe ke-cekek2 saya mbak! Ga kuat. Akhirnya saya pindah aja kesini”. Untuk mendapatkan selembar tiket, orang bisa barbar begitu,menghalalkan segala cara, nyelak antrian.

Pergi dari antrian, kita menuju tempat makan di samping JCC. Kebetulan melewati GBK. Disana juga ternyata lumayan ricuh! Saya melihat orang yang sudah punya kupon digiring ke arah dalam GBK. Karena kita tidak dapat tiket, yasudah kita lewat saja. Setelah isi perut, kita pulang. Sungguh sangat kaget waktu lihat berita di Tv ternyata di GBK rusuh! Para calon pembeli tiket ngamuk di dalam stadion. Saya heran, bukannya yang masuk ke dalam stadion itu yang sudah pegang kupon? Mereka harusnya sudah berhak mendapatkan voucher. PARAH! Ckckck… Terakhir dapat info,mereka ternyata akhirnya tiap orang Cuma dapat 1 tiket! Masya Allah…. Pengorbanan dari semalam suntuk dihargai Cuma segitu? Kejam sekali….

Dan yang membuat saya emosi, ketika si NURDIN (yang katanya Ketua PSSI itu) bilang kalau kerusuhan itu ulah provokator dan penjualan tiket dihentikan karena calon pembeli rusuh. PLEASE deh Pak, dapat bisikan dan mana? Jelas-jelas saya antri sudah rapih, tapi baru saja loket dibuka, pemberian nomer antrian dihentikan tanpa kejalasan. Dan provokator itu siapa? Kalau saya jadi Bapak dan mengetahui keadaan sebenarnya di GBK (ikut mengantri ), saya tidak akan sembarang menuduh kalau itu ulah PROVOKATOR. Siapa sih yang tidak marah dan kecewa, kalau sistemnya GAJEBO seperti itu. Apalagi yang sudah menginap, datang jauh-jauh, eh…ga dapat tiket juga!

Dan akhirnya…saya pun membeli tiket dari calo juga untuk menonton Final Leg-2.Tiket yang haganya 200rb, dijual jadi 230rb. Itu masih murah! Ada yang beli tiket Cat-3 yang 50rb jadi diatas 100rb. Bahkan ada juga tiket yang Cat-1 itu dijual lebih dari 300rb. Bahkan saya yakin ada yang membeli jauh lebih mahal dari itu.

Pengalaman menonton Final leg-2, kebetulan saya nongkrong dulu dan janjian di mall FX dengan teman. Bener-bener ya… penonton sepakbola sudah beda dengan jaman dulu! Penontonnya banyak dari kelas atas, bersolek, wangiiiiiiiiiiiiiiiiiii….. Melihat penonton sepakbola, bak melihat peragawati berlenggak-lenggok di atas catwalk dengan segala dandanan menornya. Karena penontonnya dari kelas yang tidak biasanya menonton bola di stadion inilah, jadi kurang greget-nya nontonnya. “Kebanyakan disuruh duduk!”😉 Nonton bola itu enaknya memang berdiri, lompat-lompat (emangnya nonton konser? Hihi…). Malahan, waktu Indonesia lebih dulu  masukin goal banyak yang sudah pulang duluan *Sigh. Padahal kalau menurut saya, justru di saat itu pemain butuh support dari kita yang melihat langsung di stadion. Siapa tahu bisa lebih membakar semangat dengan teriakan-teriakan kita *Ngarep.

Yah… apapun hasil akhirnya, dan ternyata kita kalah dari Malaysia. Garuda tetap di Dadaku. Saya tetap cinta bola, cinta timnas, dan pastinya…selalu cinta @Bepe20! Hehe…. #GarudadidadakuBepedihatiku *_*

2 Responses to "Yang Tersisa Dari AFF"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitter Updates

Blog Stats

  • 28,874 hits
%d bloggers like this: