celotehjul2julia

Resensi Film Dokumenter: Working Girls (Perempuan Pencari Nafkah)

Posted on: January 11, 2011

Waktu perhelatan JIFFest (Jakarta International Film Festival) Desember lalu, saya dapet tiket premiere invitation film “Working Girls”. Film dokumenter ini, Produser-nya Nia Dinata, dan Co Producer-nya Vivian Idris. Film ini film dokumenter “keroyokan” dari beberapa sineas muda : Sally Anom Sari – Sammaria Simanjuntak – Daud Sumolang – Nitta Nazyra C.Noer – Yosep Anngi Noen.

Saya suka dengan tagline film ini “We Work, We Struggle, We Have Dreams, Just Like You!”. Yak, sesuai judul dan tagline-nya, film ini bercerita tentang pertarungan hidup perempuan-perempuan bekerja. Bukan pekerjaan kantoran seperti biasanya, tapi lebih dari itu. Film ini berdurasi sekitar 123 menit.

Terdiri dari dokumentasi 3 film pendek :

5 MENIT LAGI AHH..AH… (Sutradara: Sammaria & Sally)

Bercerita tentang Riana, seorang artis dangdut cilik pemenang kontes idola dangdut di Televisi. Di usianya yang masih belia, 14 tahun, dia menjadi tulang punggung keluarga. Bernyanyi dari satu panggung ke panggung lainnya. Semenjak dia memenangkan kontes dangdut itu, sontak kehidupannya berubah. Perjuangannya tidak selalu berjalan mulus. Dia bekerja keras, menghabiskan masa kecilnya yang seharusnya bisa puas bermain. Namun dipakai untuk mencari nafkah, menghidupi keluarga,membangun rumah, dll. Karier yang dirintisnya pun tak berjalan mulus. Tidak di panggung besar, Riana juga manggung di pesta-pesta kondangan. Sebagian, dia juga peroleh dari penjualan CD yang di-distribusikan sendiri. Dengan sistem keuntungan yang tidak jelas, bahkan terkadang CD diambil orang tanpa bayar. Dan sampai saat ini, Riana masih berjuang untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi artis dangdut ternama dan bisa rekaman. Waktu premiere ini, Riana dipertemukan sama artis dangdut idola Ike Nurjanah. Dan dia seneng banget!

 

ASAL TAK ADA ANGIN (Sutradara : Yoseph)

Film dokumenter kedua ini, bercerita tentang para perempuan yang setia dengan profesi mereka sebagai pemain Ketoprak keliling. Meski sekarang dunia hiburan sudah modern, tergantikan dengan hiruk pikuk sinetron di televisi dan film-film bioskop, namun pertunjungan ini inginnya tak lekang oleh jaman. Mereka mencoba bertahan. Meski nyaris pernah tanpa penonton, dan membuat pertunjukkan tidak dipentaskan. Tempat tinggal seadanya, banjir, dan peralatan-peralatan yang seadanya. Mereka mencoba terus exist, dan berpindah-pindah lokasi. Kagum juga sama mereka, orang-orang seperti inilah yang menurut saya pantas diberi penghargaan karena telah melestarikan budaya bangsa.

 

ULFIE PULANG KAMPUNG (Sutradara Nitta & Daud)

Film yang disimpan di akhir film ini, bercerita tentang kehidupan Ulfie. Seorang waria dari Aceh, yang setelah menyadari terkena HIV dia bertekad untuk mengajak teman-temannya untuk aware dengan penyakit ini. Ulfie tidak ingin teman-temannya terkena penyakit seperti dirinya. Ulfie bekerja di Ibukota, namun dia rela meluangkan waktunya pergi ke tanah kelahirannya di Aceh untuk mensosialisasikan penyakit berbahaya ini kepada teman-teman “seprofesi-nya”. Terkejut juga sih pas awal nonton, Aceh yang selama ini kita tau sebagai kota serambi Mekkah-nya,ternyata ada juga ya kehidupan yang seperti “itu”. Oh ya, disini juga sempat diperlihatkan bagaimana Ulfie ketika harus bertemu dengan keluarga besarnya dengan penampilan “baru”nya. Ibu-nya bahkan juga sempat diajak ke Jakarta, ketempat dimana Ulfie bekerja di Salon. Namun tidak bertahan lama, karena tidak betah. Ketika Ibunya tinggal bersamanya, Ulfie harus “petak-umpet” biar tidak ketahuan ketika memakai rok. Karena Ibunya tidak suka.

Film ini belum beredar di bioskop. Hanya diputar di tempat tertentu. Selain di JIFFest kemarin, sempat juga ditonton terbatas di Salihara. Menurut penuturan Nia Dinata waktu premiere tempo hari, film ini masih mengurus perijinan dari pihak sensor film. Namun khusus untuk JIFFest, Lembaga sensor masih memeperbolehkan menayangkannya.Wah…saya termasuk yang beruntung dong bisa menonton duluan J Terimakasih buat Kalyanasiera Foundation atas kesempatannya menonton, dapet dari Quiz twitter nih ceritanya. Hehee…

Film ini menurut saya inspiring movie banget deh! Bagus ditonton tidak hanya untuk perempuan, tapi juga buat kaum Adam. Perempuan bekerja mencari nafkah untuk keluarga sekarang bukan menjadi hal yang tabu. Namun sewajarnya, mereka bekerja hanya untuk melengkapi saja. Tanggung jawab mencari nafkah saya kira tetap harus dipegang oleh kepala keluarga. Maaf-maaf kata nih..kadang saya suka geregetan kalau ada laki-laki yang menjadi “parasit” numpang hidup pada perempuan. Bahkan kalau dengar cerita di media tentang para TKW yang mencari nafkah di negeri orang, rajin mengirim duit ke tempat asalnya (dengan maksud untuk menafkahi anaknya) namun pada kenyataanya si suami malah tidak bertanggung jawab. Uangnya dipakai buat kawin lagi! Ga punya otak banget ya… *geregetan.

Mudah-mudahan film ini segera diputar untuk umum ya.. tidak hanya buat kalangan terbatas. Supaya bisa ditonton lebih banyak orang lagi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitter Updates

Blog Stats

  • 28,874 hits
%d bloggers like this: