celotehjul2julia

RECTOVERSO : Sebuah Resensi Film

Posted on: February 20, 2013

Dalam bukunya, Dewi Lestari atau biasa disapa dengan Dee mengatakan bahwa Rectoverso adalah pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan,saling melengkapi. Sekedar flash back, di Tahun 2008 Dee mempersembahkan karya yang tidak biasa. 11 cerpen, dan 11 lagu sekaligus dalam satu kesempatan. Bisa dinikmati secara bersama, bisa juga secara terpisah. Untuk itu, Dewi memberi judul karyanya Rectoverso.

Dan tepat di hari Valentine 14 Februari 2012 lalu, Dee yang kali ini bekerjasama dengan 5 sutradara wanita sebagai Director, memilih 5 cerita dari 11 cerita yang ada di bukunya untuk dijadikan sebuah Film yang diberi Judul “Rectoverso, Cinta Yang Tak Terucap”. Ke lima film yang diambil itu kesemuanya bertemakan cinta yang tak terucap *ehm…  

Uniknya, film ini tidak dikisahkan secara berurutan, tapi alurnya diacak. Belum selesai cerita yang satu, pindah dulu ke judul berikutnya. Tapi lama-lama kita pun bakal digiring untuk mengetahui cerita seutuhnya ketika puzzle-puzzle itu akhirnya dikumpulkan menjadi satu. Adapun 5 kisah yang diangkat ke layar lebar Rectoverso itu adalah :

 

Malaikat Juga Tahu

Director : Marcella Zalianty

Writer : Ve Handojo

Film ini bertutur tentang kisah percintaan antara si Abang penderita Autis (Lukman Sardi) , si Adik (Marcel Domits) dan Leia (Prisia Nasution). Leia adalah salah satu penghuni kost Bunda (Ibunya si Abang dan Adik) yang pada awalnya dekat dengan si Abang. Saya terkesan dengan akting Lukman Sardi yang sangat baik sekali memerankan tokoh Abang yang terkena autis. FYI, Lukman Sardi juga yang pernah menjadi model Klip-nya Dewi Lestari “Malaikat Juga Tahu”. Leia ini satu-satunya penghuni kost yang paling mengerti si Abang akan kekurangannya. Leia juga yang sering mengajak Abang bermain dan mengobrol. Bunda tahu, jika sebenarnya si Abang menganggap Leia ini lebih dari sekedar teman. Untuk itu, Bunda juga yang paling menentang hubungan Leia dengan si Adik (Hans) yang baru datang ke rumah tersebut. Paling tersentuh ketika Bunda menasihati Leia seperti ini “Hans masih bisa mendapatkan wanita lain, sementara Abang?”.

 

Firasat

Director : Rachel Maryam

Writer : Indra Herlambang   

Firasat menceritakan tentang seseorang yang bernama Senja (diperankan Asmirandah) yang bergabung di sebuah Klub Firasat. Senja memiliki kelebihan bisa merasakan “pertanda” ketika suatu kejadian buruk akan menimpa. Di Klub itu, dia mengagumi sang mentor Panca (Diperankan Dwi Sasono) yang berkharisma. Belum pernah Senja betah berlama-lama tinggal di satu kegiatan, namun di Klub ini dia merasakan hal berbeda. Ibunya (diperankan Widyawati) sangat merasakan perbedaan ini. Sampai pada suatu ketika Senja mendapatkan firasat buruk tentang Panca, Senja berusaha sekuat tenaga untuk mencegah kepergian Panca ke Padang untuk menemui Ibunya yang sedang sakit keras.

 

Cicak di Dinding

Director : Cathy Sharon

Film ini berkisah tentang Taja seorang pelukis (diperankan Yama Carlos) yang jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Saras (diperankan Sophia Latjuba) “si Wanita Penggoda”. Saras datang begitu saja. Ketika Taja mulai jatuh cinta dengan Saras, secepat itu pula dia menghilang. Mereka bertemu kembali di sebuah pameran lukisan, dan menemukan kenyataan yang mengejutkan bahwa Saras akan menikah dengan sesorang yang sudah dia anggap sebagai Abang-nya sendiri (diperankan Tyo Pakusadewo). Di hari pernikahan, Taja memutuskan untuk tidak hadir. Sebagai pelukis, Taja memberikan sebuah kado istimewa untuk pernikahan mereka: Sebuah lukisan bertema Cicak di ruang tidur mereka yang akan menyala ketika lampu dipadamkan. Duh..kenapa harus cicak gitu ya…geli-geli gimana gitu liatnya. FYI, cicak ini adalah salah satu tatto tersembunyi yang ada di tubuh Saras. Satu-satunya cerita di film ini yang bertema“nakal”, pas diperankan oleh Sophia “always horny” Latjuba ( kata-kata ini saya bajak dari teman saya si @djaycoholic)🙂

 

Curhat buat Sahabat

Director : Olga Lidya

Writers : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

Amanda (diperankan Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo) bersahabat sudah sejak lama. Namun Amanda tidak melihat kalau selama ini Reggie menyimpan “perasaan” kepadanya. Reggie yang selama ini setia menjadi teman curhat, ketika Amanda bermasalah dengan pasanganya yang entah sudah berapa kali berganti. Namun Amanda baru menyadari kalau selama ini yang dia butuhkan sebenarnya hanya seorang yang biasa saja, dengan segelas air putih di tangannya, kala ia terbaring…sakit. Bukankah itu impian yang tidak terlalu tinggi?

 

Hanya Isyarat

Director : Happy Salma

Writer : Key Mangunsong

Pernah ikut sebuah mailing list(milis)? Ikut terlibat aktif didalamnya? Dan akhirnya jatuh cinta dengan salah satu penghuninya? Nah…cerita di Hanya Isyarat ini berkisah tentang itu. Untuk anak milis, mungkin ini sudah menjadi cerita biasa yang sering terjadi🙂 Dipertemukan dalam sebuah milis backpacker, Al (diperankan Amanda Soekasah) bertemu dengan Raga (Hamish Daud) dan mengagumi-nya secara diam-diam. Sedikit berbeda dengan bukunya yang bercerita tentang seorang perempuan pengagum pria yang sering ia temui di bar tempat nongkrong. Al mengagumi pemikiran-pemikiran Raga. Sampailah pada suatu malam ketika para penghuni milis ini berkumpul di perjalanan traveling dan melakukan sebuah permainan, untuk menceritakan pengalaman menyedihkan yang mereka alami. Al yang selama ini selalu memilih menyendiri terpisah untuk tidak bergabung dengan keempat temannya yang kesemuanya cowok ( salah satunya diperankan oleh Fauzi Baadilla, kocak) akhirnya harus ikut bergabung juga bersama mereka. Cerita sedih yang diutarakan Al adalah, tentang kisah seorang temannya yang saking miskinnya hanya mampu membeli Punggung Ayam. Dia hanya tahu bentuk Ayam itu adalah Punggung, padahal selain punggung masih ada tangan, kaki, kepala, dan lainnya. Sebenarnya, itu hanya sebuah perumpaan tentang kisah Al yang hanya mampu mengagumi seorang Raga hanya dari punggungnya saja tanpa mampu untuk mengungkapkannya…  *uhuk

*****

Kalau saya ditanya rating untuk Fim ini, dari 5 bintang saya kasih ****🙂 Secara keseluruhan, Film ini sangat menjaga cerita seperti bukunya, dan ini yang biasanya diinginkan para pembaca buku yang di Film-kan bukan? Meski tidak persis banget 100% mirip. Salut juga buat para Director muda yang kesemuanya Perempuan, two thumbs up! Meski begitu, film ini bukan saja bisa dinikmati oleh kaum perempuan saja loh… Tapi ada satu celotehan teman saya yang usil mengatakan seperti ini “Ah..paling yang nonton banyakan cewek. Yang  cintanya tak terucap kan biasanya cewek” JLEB banget deh….

Jadi ingat juga percakapan ini dengan seorang teman “Ga enak jadi perempuan, ga bisa ngungkapin perasaan duluan”. Temen saya nimpalin “Emang jadi cowok juga enak? Harus nembak duluan”. Ya… dia benar, tidak semua laki-laki punya keberanian buat nembak perempuan duluan. Butuh nyali yang kuat. Benar seperti itu?🙂       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Twitter Updates

Blog Stats

  • 28,874 hits
%d bloggers like this: